Resume Buku
Komunikasi Islam
“Dr.
Harjani Hefni, Lc., M. A.”
SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM
A. Pendahuluan
Sebagai sebuah ilmu, komunikasi islam memiliki sumber
utama yang sangat potensial untuk digali, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.
Meskipun tidak terkumpul dalam satu tempat, tetapi bahan baku ilmu komunikasi
islam yang terdapat dibanyak tempat dalam Al-Quran dan As-Sunnah sangat
memungkinkn untuk memformat ilmu komunikasi islam secara sistematis sehingga
menjadi ilmu yang mudah dimanfaatkan oleh akademisi dan masyarakat umum.
Selain Al-Quran dan As-Sunnah kitab-kitab sumber dan
referensi para ulama islam, serta ilmu komunikasi umum yang bisa menjadi bahan
baku yang bisa diolah untuk membangun ilmu komunikasi islam.
B. Sumber-sumber Komunikasi Islam
1.
Al-Qur’an
·
Definisi Al-Qur’an
Al-Qur’an ditinjau dari segi etimologis
merupakan bentuk mashdar dari
kata qara’a-yaqra’u-qira’atan-wa qur’anan. Kata qara’a berarti
menghimpun dan menyatukan. Jadi menurut bahasa Al-Qur’an adalah himpunan
huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi
surat, himpunan surat menjadi mushaf Al-Qur’an. Disamping bermakna menghimpun,
Al-Qur’an dengan akar kata qara’a,bermakna tilawah atau membaca.
Jika dua makna bahasa ini dipadukan, maka Al-Qur’an artinya adalah himpunan
huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca.
Secara terminologi Al-Qur’an
didefinisikan, “Firman Allah yang menjadi mukjizat abadi pada Rasulullah yang
tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan kepada Rasulullah SAW
yang tertulis dalam mushaf, diturunkan ke generasi berikutnya
secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar”.
Definisi di atas mengandung lima makna
penting:
1)
Al-Qur’an adalah firman Allah SWT (QS. An-Najm (53): 4) Yang Maha Mulia dan
Maha Agung. Karena firman Allah yang mulia, maka menjadikan Al-Qur’an sebagai
sumber rujukan utama komunikasi Islam akan membuat ilmu ini menjadi ilmu yang
mulia.
2)
Al-Qur’an adalah mukjizat, tidak ada kata dan bacaan
yang mampu menandinginya. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu komunikasi
Islam akan membuat teori-teori ilmu ini menjadi kukuh.
3)
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu
ke dalam hatinya melalui malaikat Jibril a.s (QS. Asy-Syu’ara (26): 192-194). Allah memilih hati Nabi Muhammad SAW
karena dianggap yang paling layak untuk ditempati Al-Qur’an yang suci.
4)
Al-Qur’an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur’an
dihafal dan ditulis oleh banyak sahabat sehingga mustahil terjadinya
persekongkolan adanya penambahan atau pengurangan dalam teksnya. Lalu, secara
turun temurun Al-Quran itu diajarkan kepada generasi berikutnya, dari orang
banyak ke orang bannyak.
5)
Membacanya Al-Qur’an bernilai ibadah, bahkan setiap
huruf diganjar oleh Allah dengan sepuluh kebaikan.
·
Fungsi Al-Qur’an
1)
Al-Qur’an sebagai Huda
(petunjuk).
Fungsi
Al-Quran sebagai petunjuk di sebutkan banyak sekali dalam Al-Quran. Allah
berfirman:
“sesungguhnya
Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
kabar yang gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa
bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS. Al-Israa’
(17): 9)
Al-Quran seolah-olah GPS yang berfungsi memandu
manusia dalam perjalanan mengarungi kehidupan agar sampai ketujuan dengan
selamat.
Di antara aktivitas yang memerlukan panduan Al-Quran
adalah komunikasi, karena setiap manusia sangat tergantung kepadanya dalam
menjalani kehidupan ini, bahkan sebelum mereka lahir di bumi.
2)
Al-Qur’an sebagai Furqan
(pembeda).
Al-Qur’an sebagai al-furqan
(pembeda) menunjukkan kepada manusia mana yang baik dan mana
yang tidak baik, mana yang halal dan mana yang haram. (QS.al-Baqarah : 185).
Sifat
Al-Qur’an sebagai furqan menegaskan
bahwa ada hal yang menjadi ciri khas kaum Muslimin yang membedakannya dengan
selain mereka. Kekhasan Islam secara umum tersebut juga termanifestasikan
dalam ajaran-ajaran yang bersifat khusus seperti ilmu komunikasi. Di antara
kekhasan Islam dalam ilmu komunikasi Islam adalah: meyakini bahwa komunikasi
adalah bagian dari ibadah kepada Allah, bukan sekedar untuk kepuasan diri dan
menyenang kan orang lain. Seorang muslim harus meniatkan segala perbuatan
baiknya untuk beribadah, karena tugas utama keberadaan manusia di muka bumi ini
adalah ibadah.
Menjalankan agama yang lurus jauh dari syirik
(mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
Dengan keyakinan ini seorang mukmin
bersemangat untuk membangun komunikasi yang positif dan takut melakukan tindakan
yang merusak.
Pesan-pesan yang baik (kalimat thayyibah) yang disampaikan
seseorang memiliki kekuatan menembus relung hati manusia dan bahkan membuahkan
hasil yang menakjubkan.
Diantara kekhasan komunikasi islam adalah
mewujudkan rasa selalu diawasi oleh malaikat saat mengucapkan kata-kata. Bahwa
setiap perkataan kita diawasi dan dicatat oleh para malaikat. (QS. Qaf: 18)
3)
Al-Qur’an sebagai Syifa’(obat).
Jika
iman seseorang lemah dan godaan dari luar besar, biasanya hati akan hancur
lebur. Rasulullah SAW menjamin bahwa
Allah tidak menurunkan satupun penyakit di muka bumi ini kecuali menurunkan
juga obatnya. Salah satu obat yang Allah persiapakan untuk manusia adalah
Al-Quran. Fungsi Al-Quran sebagai obat terdapat dalam firman Allah:
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus
(10): 57).
Ibnu
al-Qayyim (w. 751 H) mengatakan bahwa seluruh Al-Quran adalah obat, tidak ada
obat yang lebih besar dan lebih luas manfaatnya daripada Al-Quran.
4)
Al-Qur’an sebagai rahmat
Bentuk kasih sayang Allah yang paling besar kepada
manusia adalah diturunkannya Al-Quran. Allah berfirman:
“(Tuhan)
Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran”. (QS. Ar-Rahman
(55): 1-2).
Komunikasi
yang mampu menghubungkan apa yang kita maksud dengan apa yang ditangkap oleh
orang lain adalah rahmat besar darri Allah terhadap manusia. Kita tidak dapat membayangkan
bagaimana kita akan hidup dengan nyaman andaikan apa yang kita maksudkan selalu
tidak sama dengan apa yang orang lain maksudkan.
·
Sumber dan Referensi
Rujukan utama dibidang tafsir adalah:
1)
Jami’ al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an atau Tafsir at-Tabari
disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari.
2)
Ma’alim at-Tanzil ditulis oleh Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin
Muhammad al-Farra al-Baghawi.
3)
Tafsir Al-Qur’an al-Azim disusun oleh Ibnu Katsir.
4)
Al-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir al-Ma’tsur karya al-Suyuti terdiri atas enam jilid.
5)
Mafatih al-Gaib disusun oleh Fakhruddin al-Razi
6)
Tafsir Jalalain disusun oleh Jalaludin al-Mahalli dan Jalaludin
As-Suyuti.
7)
Ruh
al`ma’ani fi Tafsir Al-Quran al-Azmi wa as-Sab’i al-Matsani disusun oleh
Syihabuddin Mahmud al-Alusi.
8)
Al-Tafsir
al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj disusun oleh Wahbah az-Zuhaili.
9)
Al-Furqon
ditulis
oleh A. Hasan.
10)
Tafsir
al-Azhar karya
Hamka.
11)
An-Nur
karya
Hasbi Ash-Shiddiqqie.
12)
Tafsir
Al-Misbah karya
Quraish Shihab.
13)
Al-Quran dan Tafsirnya. Disusun oleh sebuah
tim yang dibentuk Menteri Agama. Tim ini disebut Dewan Penyelenggara Penafsiran
Al-Quran.
·
Ayat-ayat
yang terkait dengan komunikasi
1)
Ayat tentang Hiwar dan Jidal (QS. Al-Mujaadilah (58): 1)
2)
Ayat tentang Bayan (QS. Ar-Rahman (55): 1-4)
3)
Ayat tentang Tadzkir (QS. Al-A’la (87): 9)
4)
Ayat tentnag Tabligh (QS. Al-Ma’idah (5): 67)
5)
Ayat tentang Busyra (QS. Yunus (10): 62-64).
6)
Ayat tentang Indzar (QS. Ar-Ra’d (13): 7)
7)
Ayat tentang Ta’aruf (QS. A-Hujurat (49): 13)
8)
Ayat tentang Tawashi (QS. Al-Baqarah (2): 133)
2.
As-Sunnah
Definisi
As-Sunnah
1)
Al-Sirah au al-Thariqah, Hasanah am
Sayyiah. Sirah dan Thariqah
berarti jalan kehidupan atau metode, yang baik ataupun yang buruk.
2)
Al-thariqah al-mahmudah al-mustaqimah, yaitu jalan kehidupan atau metode yang lurus dan
terpuji.
Dalam terminologi Muhadditsin, As-sunnah
didefinisikan,” Sesuatu yang didapat dari Nabi SAW baik berupa perkataan,
perbuatan, persetujuan, dan sifat jasmani atau prilaku, serta sirah beliau
sebelum atau sesudah diutus.
Fungsi
Sunnah
Fungsi Sunnah adalah sebagai tafsir bagi
Al-Qur’an, mengungkap rahasia yang dikandungnya, dan menjelaskan kehendak Allah
SWT dalam perintah-perintah-Nya atau larangan-larangan-Nya. Al-Qur’an sangat
membutuhkan Sunnah, karena tanpa sunnah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang sulit
untuk dipahami, dan tidak bisa dimengerti maksudnya, tetapi tidak demikian
sebaliknya, karena walaupun tanpa Al-Qur’an, As-Sunnah sudah bisa dipahami
dengan sendirinya.
Sumber dan Referensi
1)
Shahih al-Bukhari
2)
Shahih Muslim
3)
Sunan Abu Daud
4)
Sunan al-Nasa’i
5)
Sunan Tirmidzi
6)
Sunan Ibnu Majah
3.
Kitab-kitab Para Ulama
1)
Kitab Ihya
‘Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
2)
Minhaj al-Qashidin Karya al-Maqdisi.
3)
Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi.
4)
Kitab ‘Afat al-Lisan
fi Dhau Al-Qur’an wa As-Sunnah karya Said bin Ali bin Wafh Al-Qathani.
5)
Adab al-lisan karya Abu Anas Majid al-Nabkhi
4.
Ilmu Komunikasi
Tiga pokok pikiran utama:
1)
Objek pengamatan yang jadi fokus perhatian
dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem
tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.
2)
Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam arti pokok-pokok
pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.
3)
Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan
fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari
sistem tanda dan lambang.
Secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang
peristiwa komunikasi yang diperoleh
melaui suatu penelitian tentang sistem, protes, dan pengaruhnya yang dapat dilakukan
secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya dapat diuji dan
digeneralisaikan
Sumber: Dr. Harjani Hefni. 2015. Komunikasi Islam. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Komentar
Posting Komentar